PETA INDONESIA

PETA INDONESIA

Sabtu, 26 Maret 2011

RUMAH ADAT BETANG

OLEH BINTANG SARIYATNO


Pada masa lalu, kehidupan suku-suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok-kelompok. Di mana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Huma Betang (Rumah Betang).

Betang memiliki keunikan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan.

katingankab.go.id/ktg/images/foto/pariwisata4.jpg

Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B), selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun serta anti rayap.

Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa di dalamnya, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Di dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga.

Pada halaman depan Betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan Betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikorbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman Betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.

Pada bagian belakang dari Betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakantukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada Betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang Betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah.

Salah satu kebiasaan suku Dayak adalah memelihara hewan, seperti anjing, burung, kucing, babi, atau sapi. Selain karena ingin merawat anjing, suku Dayak juga sangat membutuhkan peran anjing sebagai 'teman' yang setia pada saat berburu di hutan belanntara. Pada zaman yang telah lalu suku Dayak tidak pernah mau memakan daging anjing, karena suku Dayak sudah menganggap anjing sebagai pendamping setia yang selalu menemani khususnya ketika berada di hutan. Karena sudah menganggap anjing sebagai bagian dari suku Dayak, anjing juga diberi nama layaknya manusia.

Sangat patut disayangkan seiring dengan modernisasi bangunan-bangunan masa sekarang, Betang kini hampir di ujung kepunahan, padahal Betang merupakan salah satu bentuk semangat serta perwujudan dari sebuah kebersamaan suku Dayak. Mungkin nanti Betang akan benar-benar punah tetapi merupakan tanggung jawab kita kepada leluhur untuk tetap mempertahankan semangat Huma Betang. Patut kita sadari di dalam diri ini pasti terdapat rasa untuk tetap memperjuangkan kebudayaan dari leluhur.

Disadur dari artikel serupa di blog saya: BETANG

* gambar dari katingankab.go.id

PANGLIMA BURUNG

OLEH : RUDY GUNAWAN

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

www.flickr.com/photos/beckzaidan/1102006510

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup--yang oleh orang Dayak Ngaju disebutDanum Kaharingan Belum.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, danmandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual--yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah--dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau--memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah--agama manapun--dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya--entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain--tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.


Catatan: artikel ini dirilis ulang dari blog pribadi saya, GunawanRudy.Com - Panglima Burung

Manyadiri, Preventif Mara Bahaya

OLEH EDDY RANAN

Manyadiri atau Nyadiri, adalah suatu model upaya preventif dan kuratif yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat Dayak agar keluarganya terhindar dari sial kawe (mara bahaya). Bahkan melalui ritual Nyadiri diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang mengancam kelangsungan kehidupan keluarga. Di dalam kehidupan modern sekarang, upaya pencegahan agar tidak menderita sakit, adalah lebih penting daripada upaya mengobati. Anjuran ini sudah sering kita dengar dan semua orang sangat memahami arti dari sepotong kalimat diatas.

Ada berbagai cara mencegah agar seseorang tidak mengalami sakit, (1) menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kesehariannya, (2) melakukan general checkup dengan memanfaatkan teknologi kedokteran modern yang tersedia di unit-unit pelayanan kesehatan yang ada disekitar kita. Pemanfaatan teknologi kedokteran modern, dapat membantu mengetahui dengan cepat, akurat kondisi tubuh seseorang, apakah sehat atau mengalami gangguan kesehatan ringan sampai gangguan kesehatan serius. Bila diketahui bahwa seseorang mengalami gangguan kesehatan serius, maka perlu dilakukan segera pengobatan medis lanjutan agar dapat sehat kembali atau paling tidak dapat mempertahankan usia harapan hidupnya.

Upaya rehabilitasi medis bagi seseorang yang mengalami gangguan kesehatan serius memerlukan biaya mahal, yang berdampak kepada resiko ekonomi yang ditanggung akibat menderita sakit. Mengelola resiko ekonomi akibat menderita sakit sangatlah penting yaitu melalui program Jaminan Kesehatan (health insurance). Artinya segala macam resiko ekonomi seperti jatuh miskin, bangkrut, melarat akibat pembiayaan kesehatan yang mahal, diserahkan sepenuhnya kepada suatu badan asuransi resmi milik pemerintah maupun swasta. Uraian diatas menggambarkan cara-cara masyarakat modern sekarang, mengelola kesehatannya agar terhindar dari dampak resiko ekonomi keluarganya.

Nah, bagaimana masyarakat Dayak mengelola kesehatannya agar tidak jatuh sakit dan yang sakit dapat sembuh kembali, melalui ritual Manyadiri atau Nyadiri yang sampai sekarang masih dipercaya dan sering dilakukan oleh sebagian masyarakat di Kalimantan Tengah. Bagaimana ritual Manyadiri dilakukan? Mari ikuti penuturan singkat proses ritual Manyadiri sebagai model upaya preventif mengelola kesehatan keluarga di kalangan masyarakat Dayak yang mempercayainya.

Pada zamannya hidup seorang bernama Antang Pitih dan indang (bahasa Dayak halus untuk 'ibu'). Keluarga ini sangatlah miskin--maklum waktu itu belum ada program pemerintah seperti sekarang--rumah tempat tinggalnya jauh dari ukuran rumah layak huni, bahkan untuk persoalan makan pun syukur-syukur satu kali sehari. Jangan ditanya kandungan gizinya pasti anjlok di bawah garis merah.

Persoalan kemiskinan inilah yang selalu dikeluhkan oleh Antang Pitih, dia bertanya kepada Ranying Hatala Langit (Tuhan) kenapa kehidupan keluarganya tidak seberuntung keluarga lainnya. Oleh sebab itu Antang Pitih bermohon dan minta pertolongan Ranying Hatala Langit agar diberi suatu talenta yang dapat digunakan memperbaiki kehidupan keluarganya menjadi lebih baik dan terhormat di lingkungan masyarakatnya pada waktu itu.

[Saya bertanya pada bue yang Basir, kapan ya kejadiannya? Lalu jawabnya, "huss... ela kare pander ikau benyem ih aku gin di katawa hampea!" dalam hati saya ngakak, heheee...]

Segala keluhan dan permohonan Antang Pitih didengar oleh Ranying Hatala Langit.

"Baiklah," kata Ranying Hatala Langit, "aku akan berikan kepada Antang Pitih suatu talenta Tamat Mimpi."

[Lalu kemudian saya tanya bue, "narai je Tamat Mimpi nah?"]

Artinya Antang Pitih diberi talenta melalui mimpi, apapun yang dimimpikan Antang Pitih selagi tidur, maka esok harinya akan menjadi kenyataan. Selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari, selama itulah mimpi Antang Pintih selalu menjadi kenyataan. Bila Antang Pitih bermimpi mendapat ikan yang banyak maka esok harinya ketika Antang Pitih mencari ikan maka ia memperoleh ikan yang banyak. Pokoknya sejak diberi talenta Tamat Mimpi oleh Ranying Hatala Langit, kehidupan Antang Pitih dan indang-nya serba berkecukupan malah berlebihan.

[Sayang ya waktu itu belum ada mobil, pesawat udara, HP, laptop, dll... Wah bisa kaya raya lah Antang Pitih...]

Suatu ketika Antang Pitih bermimpi dia mati dan akan dijemput oleh para setan dan dedemit. Sebagai seorang Tamat Mimpi, Antang Pitih sangat memahami bakal yang terjadi pada dirinya. Kata Antang Pitih, "pasti matei aku tuh..." (pasti mati aku ini).

Dengan tubuh gemetar, wajah pucat tanpa darah, Antang Pitih melapor pada indang-nya, "oi... indang matei aku tuh, aku nupi matei dan induan taluh andau tuh kea... Dohop aku tuh."

Setelah mendengar penuturan mimpi anaknya, maka indang-nya menyarankan Antang Pitih meminta pendapat atau mencari jalan keluar yang terbaik sebagai upaya preventif kepada suami-istri Tatu Kalaya Henda (orang sakti) yang tinggal di Bukit Salampai Pukung.

[Saya tanya bue, di mana itu? Jawab bue, "jatun ti melai Indonesia su... Bahasa Sangiang..." tambah bingung.]

Dengan berpakaian seadanya, Antang Pitih meraup mandau lalu berangkat menemui Tatu Kalaya Henda di Bukit Salampai Pukung. Dengan langkah cepat dan napas kembang kempis melewati lembah dan bukit (bahu lakau), Antang Pitih berupaya sampai di Bukit Salampai Pukung sebelum tengah hari.

Di tengah perjalanannya Antang Pitih dikejutkan oleh suara orang ramai-ramai menebang kayu dengan riuh gembiranya. Dalam hati Antang Pitih bertanya-tanya, "ada apa ya? Kok ramai sekali orang menebang kayu di tengah hutan..."

Dengan setengah berteriak Antang Pitih bertanya, "oi... pahari narai gawin ketun je rami tutu hikau neweng kayu?" (oi... ada apa gerangan kerjaan kalian ramai menebang kayu di situ?)

Maka dijawab, "ikei tuh lagi manampa raung Antang Pitih, halemei kareh ikei duan ie dan namean hung raung tuh, angat ie matei." (kami ini ramai-ramai membuat peti mati buat Antang Pitih, magrib nanti kami jemput dia dan memasukkannya dalam peti mati ini.)

Hadari pukang-pukang (lari pontang panting) Antang Pitih, tahunya lawan bicara tadi adalah dari komunitas para taluh (hantu, setan, dedemit) yang akan mengeksekusi Antang Pitih sore nanti. Entah berapa lama, sampailah Antang Pitih di Bukit Salampai Pukung tempat tinggal Tatu Kalaya Henda. Tanpa permisi langsung sonder masuk rumah sang petinggi. Dengan wajah layu kecapean, bertanya ia kepada istri Tatu Kalaya Henda, "kueh bue, Mbi?" (di mana kakek, nek?)

"Tege endau hikau, tau tiruh hung kamar baun hikau buem te." (ada tadi di situ, mungkin kakek tidur di kamar depan.)

Tambah bingung Antang Pitih, hendak membangunkan kakek Tatu Kalaya Henda jadi takut, pikirnya sudahlah pulang saja, pasrah biar mati saja.

Dasar Antang Pitih rada-rada sableng, pulanglah dia dari rumah Tatau Kalaya Henda tanpa memperoleh hasil sesuai perintah indang-nya. Tetapi ketika berjalan pulang, teringatlah Antang Pitih dengan ucapan para hantu dan dedemit tadi, maka berbaliklah Antang Pitih kembali ke rumah Tatu Kalaya Henda, dengan harapan siapa tahu kakek tadi sudah bangun.

Lagi-lagi Antang Pitih bikin ulah, setelah sampai rumah Tatu Kalaya Henda bukannya masuk ke rumah, tetapi Antang Pitih diam-diam memanjat pohon jambu yang tumbuh persis di samping pintu kamar tidur Tata Kalaya Henda. Sambil memakan buah jambu Antang Pitih tidur-tiduran di atas pohon jambu tersebut seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan keselamatan jiwanya.

Beberapa saat terdengar suara Tatu Kalaya Henda bangun dan bertanya kepada instrinya, "eweh je dumah endau?" (siapa yang datang tadi?)

"Antang Pitih," jawab istrinya.

"Narai jalana maja kue dan kueh Antang Pitih tu?" (apa tujuan Antang Pitih datang, dan di mana yang bersangkutan sekarang?)

"Dia aku katawa narai jalanan langsung buli, tapi ampin Antang Pitih te kilau tege masalah." (entahlah apa tujuannya langsung pergi, tetapi sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Antang Pitih.)

"Tawang ku sebab je mawi Antang Pitih, ie te nupi arep ah matei dan setiap je inupi te pasti terjadi, awi Antang Pitih te inenga awi Ranying Hatala Langit, talenta Tamat Nupi, makanya ie paham kapehe atei tagal nupi te." (tahu saya penyebabnya, Antang Pitih itu mimpi dia mati dan mimpi itu benar-benar akan terjadi, sebab Antang Pitih diberi talenta Tamat Mimpi oleh Tuhan, makanya ia sakit hati takut meninggal.)

Tanya istri Tatu Kalaya Henda, "kenampi kuam dohon Antang Pitih kau?" (bagaimana cara menolong Antang Pitih?)

"Narai je kahali, te Antang Pitih mupu ije kalawas humbang, nyuhu indu manampa ancak ije gawang helang puting ah, palus indu ngarakup behas manempe akan manjadi tepung, tepung te hapa manampa 'Patung Sadiri', duan tanteluh manuk due kabawak ije manta ije masak, je manta hapa manyaki Antang Pitih dan je masak andak hung ancak te, palus nampa kea sipa roko, dan mintih behas hambaruan. Te ancak dan Patung Sadiri hantuk telu kali hung takuluk Antang Pitih duan hambarua, palus ancak te agah akan likut huma angat taluh te manduan patung sadiri te kilau gantin biitin Antang Pitih... Salamat Antang Pitih bara pampatei."

Arti penuturan Tatu Kalaya Henda diatas adalah, agar Antang Pitih mencari 1 ruas bambu untuk dibuatkan ancak (wadah) dengan ukuran 1 kilan persegi, lalu indang-nya mengambil beras secukupnya dan ditumbuk menjadi tepung beras untuk membuat Patung Sadiri, kemudian ambil 2 butir telur ayam, 1 butir mentah 1 butir lainnya direbus matang, sesudah itu lalu dibuatkan pinang sirih serta dipilih butir beras secukupnya yang disebut behas hambaruan.

Kemudian Ancak yang sudah dibuat, diisi dengan Patung Sadiri, telur matang, dan sirih pinang, serta behas hambaruan (roh), tahapan selanjutnya ancak tersebut didoakan dengan meletakkan di kepala Antang Pitih sebanyak 3 kali, agar Patung Sadiri tadi mengganti tubuh Antang Pitih. Setelah selesai maka Ancak Sadiri tadi digantung pada dahan pohon yang tidak terlalu tinggi di belakang rumah, dan bila malam tiba maka Patung Sadiri tadi menjelma seolah-olah Antang Pitih. Maka para hantu, setan, dedemit tadi menangkap Patung Sadiri sebagai pengganti Antang Pitih yang sebenarnya. Dan selamatlah Antang Pitih dari kematian.

Antang Pitih yang dari tadi mendengar penuturan Tatu Kalaya Henda, berucap, "kalute lah bue, tarima kasih ih ara." Lalu Antang Pitih bergegas pulang melaksanakan ritual Nyadiri sebagaimana cerita Tatu Kalaya Henda tadi.

Ritual Manyadiri yang kental dengan nuansa mistis, sampai sekarang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Dayak yang menyakininya dapat memproteksi segala marabahaya, sakit penyakit yang berawal dari tafsiran mimpi. Artinya masyarakat Dayak sudah sejak dulu menyerahkan resiko ekonomi yang bakal terjadi akibat sakit bahkan kematian dapat dihindari melalui ritual Manyadiri.

Pelaksanaan Ritual Manyadiri tidak sembarang orang dapat melakukannya. Hanya orang-orang Dayak tertentu yang dikenal dan turun temurun dipercaya dapat melaksanakan ritual Manyadiri. Sampai sekarang ritual Manyadiri masih dilakukan walaupun keberadaannya semakin terlupakan mengingat pengaruh budaya modern semakin tidak terbendungkan.

Mampukah ritual Manyadiri bertaha ndi kalangan masyarakat Dayak? Mengingat sering saya bertanya dengan kehadiran anak-anak mengikuti ritual Manyadiri apa yang menarik bagi mereka. Jawabnya, "salanja manduan tanteluh je tege hung ancak te ih ma..." dasar.

Asal-Usul Manusia, Raja Bunu


Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Dan Raja Bunu memang diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri–ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. Ciri–ciri yang lain adalah Raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk–pauk, dan lain-lain seperti makanan kita sekarang ini.

Raja Bunu dianugrahi oleh Ranying Hatalla Langit sebuah besi bernama Sanaman Lenteng. Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain di sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing–masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini aneh, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo dianalogikan, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam.

Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara-gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.

Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.

Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba–tiba Raja Sangen menghunus dohong-nya lalu menghujamkannya ke arah burung itu. Sehingga darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah menjadi emas, berlian, dan permata.

Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya kualat dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan mereka, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.

Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dan harta itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohong-nya ke arah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dan lain-lain. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga burung itu pun sehat kembali.

Dan lagi–lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi–lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah itu. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.

Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).

Catatan: artikel ini disadur dari artikel Tiwah di blog saya.

* foto dari buku Maneser Panatau Tatu Hiang