PETA INDONESIA

PETA INDONESIA
Tampilkan postingan dengan label SANGIR TALAUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SANGIR TALAUD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2009

KERAJAAN MANGANITU / KAUHIS

I. Raja Liuntolowang 1600 – 1645
Putra Jogugu Nalong dari Tagulandang dan Lokun Patola dari Saluran / Tabukan. Kerajaan Manganitu atau juga dikenal dengan Kerajaan Kauhis sering terjadi pertikaian dengan kerajaan tetangganya mengenai perbatasan, khususnya Kerajaan Tahuna. Pada tahun 1645 terjadi peperangan antara Raja Tolosan dan Raja Buntuan putra Raja Tatohe dari Kerajaan Kolongan / Tahuna. Ke dua Raja tersebut langsung memasuki medan laga dimana keduanya mengerahkan prajurit-prajurit pilihan dibawah hulubalang-hulubalang yang dapat diandalkan. Dari pihak Raja Tolosan yang menjadi andalannya adalah putranya sendiri dari permaisuri Bowondampel bernama Lantomona sedangkan dari pihak Raja Buntuan adalah saudaranya sendiri bernama Puluntumbage. Dalam peperangan tersebut, Raja Tolosan tewas dan kepalanya oleh laskar Tahuna dibawa pulang ke Tahuna dengan mengadakan pesta pora. Akibat dari mabuk kemenangan tersebut semuanya jatuh tertidur dan kepala raja yang berada ditengah-tengah pesta tersebut tidak ada yang menjaga. Seorang budak perempuan dari Raja Tolosan bernama Salumpito mencuri kepala Rajanya dari tengah-tengah lascar yang tertidur. Seorang dari pengawal bernama Sampaha siuman dan untuk mengamankan kepala Rajanya dan diri Salumpito sendiri, maka Salumpito mengajak berunding dengan Sampaha dimana Salumpito bersedia menjadi isteri Sampaha. Tawaran ini dengan sendirinya diterima oleh Sampaha dan keduanya membawa kepala Raja Tolosan ke Manganitu. Jenasah tanpa kepala dimakamkan ditempat bernama Kumui (Bolase) sedangkan kepalanya setelah diadakan upacara pemujaan dimakamkan di Bowontiala tempat pemakaman Raja-raja Manganitu. Dengan permufakatan keluarga kerajaan Manganitu maka Salumpito dibebaskan dari derajat perbudakan disertai dengan suatu amanat bahwa terkutuklah barangsiapa yang menggolongkan Salumpito dalam derajat budak sampai turun temurun.

II. Raja Tompoliu 1645 – 1670
Putra dari Raja Tolosan dari permaisuri ke I bernama Ahung Sehiwu dari Saluran / Tabukan saudara sebapak dari Pahlawan Lantemena. Di jaman Raja Rompoliu permusuhan antara Kauhis / Manganitu agak mereda setelah Pahlawan Lantemena mengalahkan pahlawan Puluntumbage ditempat yang sekarang di kenal dengan nama Bonohan Saghudi Manganitu. Arti Bonoho ialah tenggelam. Saghu ialah air mayat dimana mayat-mayat ke dua belah pihak bergelimpangan. Raja Tompoliu menurut kisahnya adalah seorang Raja yang sakti. Asap rokoknya apabila ditiup ke teluk Manganitu maka seluruh teluk menjadi gelap gulita. Oleh sebab itu apabila ada kapal VOC memasuki teluk Manganitu kapal tersebut dihilangkan arah dan berbalik haluan ke laut bebas. Dari sinilah Manganitu dikenal juga dengan nama Maobungan atau Mahebungan.

III. Raja Bataha Santiago 1670 – 1675
Putra Raja Tompoliu dari permaisuri ke I bernama Lawewe putrid dari Pahlawan Ontare dan isteri Kahiwu Wahu dari Kerajaan Sahbe / Tabukan. Beliau tidak mau mengadakan kompromi dengan VOC dan mengadakan perlawanan dan beliau ditangkap dan dihukum gantung di Tanjung Taruna pada tahun 1675. Jenasah beliau dikuburkan di tempat bernama Bawehungtiwo.

IV. Raja Diamanti 1675 - 1694
Saudara Raja Bataha Santiago yang juga agak keras kepala terhadap VOC. Sewaktu perhujungan Gubernur Padbruggo dari Ternate beliau tidak mau menghadiri pertemuan antara Raja-raja di Sangir yang diadakaan di Taruna. Beliau mempunyai pendirian bahwa lebih baik buang kotoran besar atau dalam bahasa daerah “Ondobeng mengkile” daripada bertemu dengan Padbruggo. Oleh sebab itu beliau dikenal juga dengan nama Carles Piantai atau Carles Diamanti. Namun akhirnya terpaksa juga memenuhi undangan yang ditanda tangani oleh Raja Diamanti diatas kapal de Eendracht di teluk Taruna pada tahun 1675 yang menyatakan bahwa keturunan beliau tidak boleh menjadi Raja lagi. Janji dengan ancaman ini berlaku sedikit waktu di Kauhis dan Manganitu itu karena putranya bernama Ondumang dari permaisuri Tabeha menjadi Raja di Taruna pada tahun 1705. Raja Diamanti mengambil bagian juga dalam perjanjian dengan VOC di Ternate pada tanggal 9 November 1677 dengan Raja-raja Sangir lainnya :
- Raja Vasco da Ghama dari Tabukan
- Raja Martin Tatandan dari Taruna
- Raja Aralungnusa dari Tagulandang
- Raja Fransisco Marvius Batahi dari Siau

V. Raja Dotulong Takaengetan 1694 – 1725
Putra Raja Tabukan Fransisco Makaampow Yudha II dengan Elang Sehiwu permaisuri dari pangeran Tanjawa dari Manganitu. Peristiwa menentukan siapa ayah tersebut adalah sebuah cincin emas dan sebuah pisang emas yang melambangkan suatu ikatan yang tidak dapat diputuskan oleh siapapun dimana didalamnya melambangkan suatu pertolongan. Kata Elangsehiwu, Tanjawa adalah suamiku namun Yudha telah memberikan segumpal daging bagiku oleh karena itu aku mintakan mahar sebagian dari kerajaannya. Oleh sebab itu Raja Yudha memberikan wilayahnya dibagian Selatan pulau-pulau Batunderang, Mendaku, Bobalang dan Dakupang. Namun Elangsehiwu belum puas dengan berkata : “Jangan hanya memberikan gumpalannya tapi berikan juga lembarannya”, sebagai tanda tidak puas akan pemberian itu. Dalam bahasa daerahnya kira-kira adalah demikian ,”Abe Ko’ta’eng lobe’e, Celikowon Bakose”. Dengan sindiran tersebut maka Raja Yudha memberikan batas Kerajaan Manganitu dan Tabukan. Raja Yudha memberikan nama Takaengetan, karena Tabukan tidak dapat mengatakan apa-apa lagi sedangkan Tanjawa menamai Dotulong atau Jotulong karena sepeninggalnya ke Ternate Raja Tabukan Yudha telah menolong istrinya. Oleh sebab itu putra tersebut dinamai Takaengetan Jotulong.

VI. Raja Don Martin Lazarus / Lazaru 1725 – 1740
Putra Raja Dotulong Takaengetan dari permaisuri Elangsehiwu putri Raja Aghogo dari Tabukan. Sebagaimana halnya maka VOC menjalankan politik main buang Raja-raja atau Sultan-sultan yang berada di wilayah penjajahannya maka Raja Lazaru dibuang oleh Belanda ke Madagaskar pada tahun 1740, dengan 20 keluarga yang setia kepadanya. Pembuangan ini untuk menghindari permusuhan antara Manganitu dan Taruna disebabkan pembunuhan oleh seorang rakyat dari kerajaan Manganitu yang bernama Habibi yang menjadi pahlawan dari Raja Lazaru. Peristiwanya terjadi di teluk Lesa yang menjadi wilayah Kerajaan Tahuna dibawah pemerintahan Raja Manulung Bansage Paparang. Penganiayaan tersebut disebabkan permintaan permaisurinya Dolontongo yang menghendaki daging manusia ditengah-tengah santapan lainnya sewaktu diadakan perayaan hari maulid raja karena segala santapan sudah tersedia yang penuh dengan bermacam-macam ikan yang tidak ada hanya daging manusia. Ditempat tersebut dimana peristiwa itu terjadi terdapat sebuah batu dan sampai sekarang dikenal penduduk sekitarnya dengan nama Batutinggolan. Raja Lazaru wafat di Madagaskar pada tahun 1740. Sebagai data yang perlu mendapat penyelidikan oleh generasi penerus sampai dimana kaitan nama-nama kota di Madagaskar atau sekarang dikenal dengan Republik Malagasi dengan kaitannya pembuangan Raja Lazaru. Terlepas dari arti bahasa Malagasi maka bila dikaitkan dengan pembuangan Raja Manganitu tersebut maka ada beberapa kota yang mengandung arti dalam bahasa daerah Sangir.

1. Entana Nahipe yang berarti Benua / Negara yang terbuang.
2. Pinohipe yang berarti tempat pembuangan atau yang sekarang disebut dalam bahasa Malagasi Vinerive sebuah nama kota.
3. Tamatava yang mempunyai pengertian tidak gemuk atau Tamatawa dalam bahasa Sangir juga sebuah nama kota di Malagasi.
4. Morin dalam bahasa Sangir atau Lenyap dalam bahasa Indonesia, suatu suku yang mendiami pegunungan Tananarive.

Demikianlah nama beberapa kota di Madagaskar yang apabila dikaitkan dengan sejarah Raja Lazaru dari Manganitu maka kemungkinan ada kaitannya dengan sejarah dari daerah Sangir Talaud terlepas dari pengertian bahasa Malagasi sendiri. Namun penjelasan ini hanya sebagai data karena Raja Lazaru dari Manganitu menurut cerita dibuang ke Madagaskar. Oleh sebab itu orang-orang tua dulu memberi sebutan kepada beliau ilaha I Tuan su Kamu, yang berarti Raja yang berada di Kaam de geode Hoop.

VII. Raja Katiandagho 1740 – 1770
Putra Sultan Goraho Darunu Aling dari Mindanao dengan permaisuri Baibudaeng putri Raja Aghogho dari Tabukan dengan permaisuri Lembunsinsale. Mulai dari beliau pusat pemerintahan dari Paghulu dipindahkan ke Manganitu. Menurut legenda beberapa daerah nama aslinya adalah “Liuntuhaseng”. Perobahan nama Katiandagho adalah sewaktu beliau pulang dari Mindanao sebagai utusan dari Tabukan dan Siau untuk membebaskan Pangeran Pahawuatan, Sangiangtinanding, Tukunang, yang ditawan oleh Mindanao pada waktu menyerang Ondong, sebagai pembalasan dendam dengan kesetian seorang pangeran Mindanao bernama Salawe yang dibunuh di Siau sewaktu mengadakan perkunjungan dengan keluarganya ke Ondong. Misi Raja Katiandagho berhasil dan dapat memulangkan mereka yang ditawan. Sewaktu dalam pelayaran pulang dari Mindanao beliau menyinggahi Karatung, di kepulauan Talaud. Para pahlawan Maranti bernyanyi (nesambo) “ I Tuan ligha’ Pa’bali Ke’katiang Pai Dagho”. Mulai saat itulah namanya berobah menjadi Katiandagho, sebagai panggilan yang lazim.

VIII. Raja Lombansuwu 1770 – 1785
Putra Raja Katiandagho dengan permaisuri Uman Duate. Pada tahun 1785 beliau diberangkatkan ke pulau Balut membantu peperangan antara Portugis dan Mindanao. Beliau sampai wafat tidak kembali lagi ke Manganitu.

IX. Raja Darunu Aling Daniel Katiandagho 1785 – 1792

X. Raja Bagunda saudara Raja Darunu Aling 1792 – 1817

XI. Raja Dirk Mocodompis Lokenbanua 1817 – 1848

XII. Raja Tampungan Jacob Bastian Tamarol 1848 – 1855

XIII. Raja Monde Hendrik Cornelis Tamarol 1855 – 1860

XIV. Raja Kamehang Jacob Laurens Tamarol 1860 – 1864

XV. Raja Hari Raya Manuel Mocodompis 1864 – 1880

XVI. Setelah raja Hari wafat pada tahun 1880 maka pemerintahan Kerajaan Manganitu dijabat berturut-turut :
1. Presiden Raja Tengkue Pantolaeng 1880 – 1882
2. Presiden Raja Johannis Makahekum Manginteno 1882 – 1883
3. Presiden Raja Daniel Katiandagho Kirahang 1883 – 1884
4. Presiden Raja Salmon Katiandagho Wintuaheng 1884 – 1886
5. Presiden Raja Lambert Ponto 1886 – 1894


XVII. Raja Tampilang Johannis Mocodompis 1894 – 1905
Raja Tampilang wafat pada tanggal 25 Mei 1923

XVIII. Raja Komisi Willem Manuel Pandesolang Mocodompis 1905 – 1942
Putra Raja Hari Raya dari permaisuri Riawulang. Permaisuri Raja Komisi berasal dari Siau bernama Louise Ella Kansil putri Raja Manalang Dulage Kansil. Dengan perkawinan Raja Komisi dengan permaisuri Louise maka Kejoguguan Tamako oleh Kerajaan Siau di berikan kepada Kerajaan Manganitu dan pusat pemerintahan Kerajaan Manganitu disebut Kerajaan Manganitu Tamako. Raja Komisi karena kesetiaannya kepada Pemerintah Belanda dianugerahi Bintang Kesetiaan sampai
dua kali. Beliau kemudian mendapat hukum pancung oleh Jepang pada bulan November 1944 di Tahuna dan dimakamkan bersama dengan Raja-raja lainnya di Bungalawang Tahuna. Demikianlah sejarah Kerajaan Manganitu sejak berdirinya tahun 1600 dibawah pemerintahan Raja Liun Tolosang sampai berakhirnya dibawah pemerintahan Raja Komisi pada tahun 1942.


KERAJAAN TABUKAN



I. Raja Makaampow Bawengehe 1600 – 1620
Putra dari Kulane Tangkuliwutang dengan permaisuri Nabuisan. Berkedudukan di Sahabe bekas Kerajaan mertunya Mamata Nusa. Ia memperistrikan ke
dua putri dari Raja Mamata Nusa yaitu Timbang Sehiwu dan Sompo Sehiwu. Makaampow tewas dalam pertempuran pada serangan ke dua kalinya yang dilakukan oleh pahlawan Hengkeng Unaung dengan satu armada dari Siau dengan bantuan Pahlawan Ambala dari Tamako. Kekalahannya ini adalah pengkhianatan pengawalnya bernama Tahapansiang yang penuh kebencian kepada majikannya sewaktu mereka menjala ikan di Teluk Laine. Suatu malam yang terang disinari bulan purnama yang tidak diduga-duga ada musuh memasuki Teluk Laine. Makin lama musuh dari laut makin dekat pantai dimana Makaampow tidak ada persiapan untuk berperang. Dengan tidak kehilangan akan maka diangkatnya ikan belanak yang didapatnya ke udara dan karena kena cahaya bulan maka musuh melihat bagaikan pedang yang disandangnya sehingga musuhnya agak ragu-ragu. Kesempatan ini dipergunakan oleh budaknya berenang memberitahukan ke musuh untuk menyerang karena yang diangkat itu bukan pedang melainkan ikan belanak atau gare (dalam bahasa Sangir). Walaupun Makaampow tidak bersenjata namun kejar mengejar disepanjang pesisir utara mulai dari teluk Laine sampai teluk Peta dan berakhir di Tanjung Lapopahe, dimuka negeri Peta Makaampow tewas dalam tangan Ambala. Ia mati diujung pedang keluarganya dimana Pahlawan Ambala adalah andalan Kulane Matandatu dibelahan barat sebelum Tamako keluar dari Kerajaan Saluran pada tahun 1575 dan bergabung dengan Kerajaan Siau. Batu dimana bekas pertempuran tersebut dinamai Batu Weka dimana pedang Ambala membunuh Makaampow berbekas. Oleh karena itu timbul nyanyian (sasambo):

“Pili” I Ambala sarang batu weka,
Hengkeng U Naung Limuhum Sebune,
Nanenten bara’ e gare,
Pinahun tika monda’.

Yang artinya dalam bahasa Indonesia kira-kira demikian :

Parangnya Pahlawan Ambala sampai batu belah,
Pahlawan Hengkeng Unaung mengelilingi buihnya,
Mengangkat pedangnya belanak,
Dikiranya pedang…

Kepala Raja Makaampow dibawa dengan sorak kemenangan ke Siau oleh pahlawan
Hengkeng . Kepala Raja Makaampow diambil kembali dari Siau oleh Pahlawan Kumale. Oleh
sebab itu ada nyanyian lagi (sasambo) :

“ Mebua” bo’en Tabukan, benteng bo’en dinge’e
Tarai sarang Siau, memena’e Karangetang
Tarai mengala’tembo masaghiwu’etanggulu
Tembo’ I Ratu Wawengehe’ tanggulu’en Makaampow
Enae’ bawaeng saghenuang sarang Moade I wentan
Balan Manuwe.

Dalam bahasa Indonesianya kira-kira adalah demikian :

Berangkat dari Tabukan, mengangkat kiriman,
Pergi ke Siau, menuju Karangetan,
Pergi mengambil kepala, membawa tengkorak,
Kepala Raja Bawenghe, tengkoraknya Makaampow,
Dibawa ke Saluran (Meade’) dikubur di Manuwe.

Namun keduluan dibawa oleh Ambala dibawaa ke Mengga’e dan dikubur di sana yang
sekarang ini dikenal dengan Menggawa.

Mulai peristiwa tersebut maka hubungan Tabukan dan Siau mulai tegang.

II. Raja Wuaten Semba Yudha I 1620 – 1665
Putra Raja Makaampow dari permaisuri Timbang Sehiwu.

III. Raja Ghama Vasco da Gama Gaman Banua 1665 – 1670
Putra Raja Wuaten Semba Yudha I dengan permaisuri Taskea dari Tagulandang. Dalam pemerintahan Raja Ghama wilayah kerajaannya di Talaud, pulau Salengkor dan Kabaruan diberikan kepada cucunya Maimuna yang menjadi permaisuri Raja Batahi dari Siau.

IV. Raja Fransisco Makaampow Yudha II 1670 – 1700
Putra dari Raja Ghama dengan permaisuri Uhentinendeng putrid dari Raja Tatohe dari Kerajaan Tahuna. Wilayah kerajaannya pulau-pulau disebelah Selatan, Kahakitan Para, Manongetan, diberikan kepada putrinya Maimuna yang menjadi permaisuri Raja Batahi dari Siau. Hubungan antara Tabukan dan Siau mulai membaik. Setelah melahirkan putra Rarame Nusa maka hubungan antara Tabukan dan Siau pulih kembali. Oleh karena itu arti Rarame Nusa adalah pendamai Nusa.

V. Raja Dalero 1700 – 1720
Putra dari Raja Yudha II dengan permaisuri Dolontengo putri Raja Palango dari Tagulandang.

VI. Raja Mehengkelangi 1720 – 1745
Saudara dari Raja Dalero

VII. Raja Karula 1745 – 1770
Putra dari Raja Mehengkelangi dengan permaisuri Belisehiwu dari Tagulandang.

VIII. Raja Sani 1770 – 1795
Putra Jogugu Bulega Langi dengan permaisuri Punsangiang putri Jogugu Wakari Sulung. Keturunan beliau tidak ada yang menjadi Raja sedangkan ada putrinya bernama Tarumensah tetapi meninggal waktu masih kecil. Oleh sebab itu Tabukan mengangkat putra Raja Manulung Pansage dari Taruna bernama Paparang Paha Wuaten dari Taruna. Paparang Wuaten adalah cucu Jogugu Takaulimang dari Tabukan, saudara Raja Fransisco Makaampow Judha I.

IX. Raja Julius Hendrik David Paparang Paha Wuaten 1795 – 1820
Putra Raja Manulung Bansage dari Taruna dengan Permaisuri Murusilang putri Raja Lohontundali dari Siau.

X. Raja Laudagima Paparang 1820 – 1875
Putra Raja Julius H. David Paparang dengan permaisuri Hote Wulaeng putri Raja Ismail Jacobus Mehengkelangi dari Siau.

XI. Raja Webesan Ignatius Nicolas Paparang 1875 – 1880
Putra Raja Laudagima Paparang dengan permaisuri Sirang.

XII. Raja Kumuku Antonius David Paparang 1880 – 1900
Putra Raja Webesan Paparang dengan permaisuri Lawewe putri Raja Tampungan dari Manganitu.

XIII. Presiden Raja Siri Darea 1900 – 1908

XIV. Raja Papukule David Sarapil 1908 – 1924
Putra Jogugu Pameras dengan permaisuri Hadinda. Pada jaman pemerintahan beliau Amerika mengklaim pulau Miangas pada Belanda pada tahun 1912. Dengan
tiga buah kapal perangnya Amerika menduduki pulau Miangas dan menurunkan bendera Belanda di pulau itu. Alasan Amerika bahwa pulau Miangas adalah wilayah Philipina karena berada tidak jauh dari pantai Mindanao. Dalam peristiwa tersebut ke dua pihak mengerahkan kapal perang masing-masing dan silih berganti menduduki pulau itu. Namun ke unggulan berada di pihak Amerika sehingga Amerika menduduki pulau Miangas. Pusat pemerintahan Belanda di Makasar tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ada sesuatu dokumen yang menjadi dasar baginya karena Belanda merebut pulau-pulau Sangir dengan kekerasan, maka tentunya Amerika pun dapat berbuat demikian terhadap Belanda. Setelah Raja Papukule David Sarapil melihat bahwa Belanda tidak mempunyai kemampuan dalam perampasan Miangas, maka beliau memberikan peringatan kepada pemerintah Belanda baik di Makasar maupun Menado agar tidak mencampuri penyelesaian pulau Miangas yang telah diduduki oleh Amerika. Kerajaan Tabukan dapat menyelesaikan berdasarkan fakta-fakta sejarah. Beliau memerintahkan dua orang ahli sejarah kerajaan Tabukan Hendrik Makaminan dan Zakarias Adipati. Hendrik Makaminan diperintahkan ke kampung Sahabe (ex Kerajaan Pahawon Seke) dan Zakarias Adipati diperintahkan ke Saluran (ex Kerajaan Bulega Langi). Hendrik Makaminan mendapatkan lima dokumen dari sejarah Kerajaan Sahabe, sedangkan Zakarias Adipati mendapatkan tujuh dokumen dari sejarah Kerajaan Saluran. Setelah ke duabelas dokumen terkumpul dari dua ex kerajaan itu maka Raja Papukule David Sarapil mengutus Zakarias Adipati dengan satu surat mandat dari Raja untuk menemui Perwira yang menjadi Komandan Pendudukan di pulau Miangas. Raja Sarapil mengirimkan permintaan ke Makasar melalui Menado agar dikirimkan kapal Tujuh ke Tabukan untuk dipakai oleh utusan Tabukan dalam perundingan dengan Amerika di pulau Miangas. Permintaan ini dipenuhi oleh Belanda dan kapal Tujuh / Zeven Provincio dikirim ke Tabukan. Dengan menaiki kapal Zeven Provincio , Zakarias Adipati selaku utusan Tabukan dengan didampingi Kontrolur Lemanz de Ryter berangkat ke Miangas. Mendekati pulau Miangas kapal Zeven Provincio bertemu dengan tiga buah kapal perang Amerika yang mengadakan patroli. Mulut-mulut meriam Amerika diarahakan ke kapal Zeven P disertai pertanyaan-pertanyaan melalui sein lampu / morse. Setelah Kapal Zeven P menjawab pertanyaan itu dengan maksud untuk merundingkan wilayah dengan cara damai, maka diijinkan masuk dengan dikawal tiga buah kapal perang itu. Utusan Kerajaan Tabukan dipersilahkan turun ke darat dan diadakan perundingan dengan Perwira Amerika yang menjadi komandannya. Dalam pertemuan tersebut komandan pendudukan memberikan dasar hukumnya mengenai alasan pendudukan pulau itu, bahwa pulau Miangas termasuk wilayah Philipina bukan wilayah Hindia Belanda (waktu itu) karena letaknya di wilayah pantai Mindanao yang menjadi wilayah Amerika. Oleh karena itu hak kedaulatan pulau itu adalah hak Amerika. Dalam balasannya mengenai penjelasan Perwira tersebut, maka dijawab oleh Zakarias Adipati bahwa Amerika benar menurut letaknya dalam wilayah Mindanao tetapi karena Kerajaan Tabukan berpegang dari hak sejarah bahwa sejak 700 tahun lalu bahwa pulau ini adalah batas kerajaan moyang Gumansalangi Medellu dengan kerajaan Mindanao disebelah Utara dan ada faktanya berupa dokumen tua yang sudah dibawanya dan oleh sebab itu pulau Miangas adalah mutlak hak dari Kerajaan Tabukan. Untuk memperkuat keterangannya lagi bahwa sebelumnya pulau ini namanya bukan miangas tetapi Pekilateng (Kilat) yang menjadi satu titik tanda dalam pelayaran di jaman purba ke jurusan utara. Kata Miangas adalah berasal dari Mana Ese yang berarti hanya lelaki, dimana ditemui oleh pahlawan Arare Kenda pada waktu menginjakkan kakinya pertama kali dipulau itu , penghuninya semua adalah lelaki atau laki-laki. Lama kelamaan Mang Ese menjadi Miangas. Pada jaman pendudukan Belanda pulau Miangas disebut Palmas. Nama ini diberikan oleh Belanda sebagai 1 peringatan pada pertama kalinya Presiden Menado bernama Elama mengunjungi pulau itu. Namun yang jelas Pulau Miangas termasuk dalam keluarga kerajaan Tabukan. Dengan fakta-fakta yang tidak dapat dibantah oleh Amerika, maka Amerika mengalah dan berangkat meninggalkan Miangas. Bendera Belanda berkibar lagi di pulau Miangas yang tadinya sudah dirobek-robek oleh Amerika dan Lambang Singa yang telah dibuang ke laut berdiri lagi di pulau Miangas. Zakarias Adipati dan Lemans de Ryter pulang ke Tabukan dengan kemenangan diplomasi setelah bersilat lidah dengan sang komandan. Setelah insiden perbatasan tersbut makan Volkenbend segera bersidang pada tahun 1914 dan mensyahkan pulau Miangas adalah mutlak wilayah Hindia Belanda yang hingga saat ini pulau tersebut menjadi perbatasan antara Negara tetangga Philipina dan Negara Republik Indonesia dan menjadi hak mutlak NKRI.

XV. Raja Kahendake Willem Sarapil 1924 – 1929
Putra dari Raja P. David Sarapil dengan permaisuri Rachel. Pada jaman pemerintahan ayahnya maka pusat pemerintahan yang berkedudukan di Tabukan Lama ( Sea Tebe ) dipindahkan ke Enemawira pada tahun 1912. Pada tahun 1929 beliau dibuang oleh Belanda ke Kolonodale Sulawesi Tengah. Sama halnya dengan Raja Lodewyk Kansil yang menjadi ipar Raja K. Willem Sarapil dimana Belanda mulai meluncurkan politik penyingkiran terhadap Raja-raja yang mempunyai pendidikan. Beliau kembali ke Tabukan setelah Jepang kalah perang pada tahun 1945. Selama Negara Indonesia Timur berdiri maka beliau menjadi Ketua Senat dalam Negara Indonesia Timur. Setelah Negara Indonesia Timur buatan Belanda bubar pada tahun 1950. Pada tahun 1952 dengan keputusan pemerintah RI maka beliau ditetapkan sebagai konsul RI Pertama di Davao. Tetapi Tuhan menetapkan lain dan pada tahun 1952 beliau jatuh sakit setelah kembali dari Jakarta dan tidak sempat menduduki jabatan yang dibebankan kepadanya. Beliau wafat pada tahun 1952.

XVI. Raja Levinus Johannis Macpal 1929 – 1942
Putra Jogugu Rindu Macpal dari Menalu dengan permaisuri Rachel Patras Tenteng dari Taruna. Raja Macpal adalah Raja terakhir dari Kerajaan Tabukan. Beliau dibinasakan oleh penguasa Jepang setelah mendapat siksaan yang berat di penjara Taruna bersama adiknya Karel Macpal Jogugu Menalu dan dipancung oleh Jepang pada tahun 1942. Jenasah ke 2 bersaudara dimakamkan di Bungalawang Tahuna bersama korban lainnya yang mengalami nasib yang sama pada waktu itu.

Demikianlah sejarah Kerajaan Tabukan sejak berdiri sejak jaman Raja Makaampow Bawengehe mulai tahun 1600 – 1942.

KERAJAAN SALURAN

Batas kerajaan Saluran mulai dari Tanjung Leho disebelah Utara sampai Tanjung Lelapide disebelah Barat berbatasan dengan Kerajaan Kauhis.


I. Raja Kulane Melintang Nusa 1450 – 1500
II. Raja Kulane Bulega Langi 1500 – 1540
III. Raja Kulane Matandatu 1540 – 1580
IV. Raja Kulane Ansiga 1580 – 1600


Wilayahnya disebelah Barat berkurang karena pada tahun 1575 Tamako keluar dari Kerajaan Saluran dan bergabung dengan Kerajaan Ondong Siau. Kerajaan Saluran bubar setelah Raja Makaampow menjadi Raja Tabukan Ke I pada tahun 1600. Sebagai fakta sejarah bahwa pada jaman kerajaan Sangir Talaud maka separuh dari pulau Sangir adalah wilayah Kerajaan Tabukan Rimpulaeng.


KERAJAAN SIAU


I. Raja Leken Banua II 1510 – 1545


Beliau bertahta di tempat bernama Katutungan. Putra dari Pahawon Suluge dngan Permaisuri Ombun Duata dari Kerajaan Bawontehu.

II. Raja Pesuma atau Pansumang 1545 – 1575


Putra Raja Leken Banua II dengan permaisuri Mangima Dampel dari Kesultanan Mindanow. Saudara Raja Pansumang adalah Angkuman dan Wasing Lawewe. Untuk penentuan menjadi Raja menggantikan ayahandanya maka ke duanya Pansumang dan Angkuman mengadakan pertarungan dan berakhir dengan kemenangan dipihak Pansumang di dekat kampong Beong di tempat bernama Lewua Daha antara Ondong dan Ulu.

III. Raja Ponto Wuisan alias Himbawe alias Wetewiwihe 1575 – 1612


Putra Raja Pesuma dengan permaisuri Belisehiwu.

IV. Raja Winsulangi 1612 – 1642


Putra Raja Ponto Wuisan dengan permaisuri Pirambai dari Kolongan. Dalam pemerintahan Raja Winsulangi permusuhan antara Tabukan dan Siau agak mereda karena Raja Winsulangi mengambil permaisurinya dari Saluran / Tabukan bernama Tihuwang Sompo yang mana Tihuwang Sompo adalah juga cucu dari Raja Pesuma dari permaisuri bernama Palungbulaeng dari Saluran / Tabukan. Di jaman pemerintahan Raja Winsulangi dengan siasat yang sangat licik bangsa Portugis dapat menginjakan kakinya dibumi Siau dengan membawa “ Mission Sacre “ mereka yang diterima sebagai sahabat oleh Raja Winsulangi. Dengan pengaruh penyebaran agama Katolik maka Portugis dapat mendirikan benteng Gurita di Ondong dan benteng Sumpini di Lilento ‘Ulu. Pada tahun 1614 beliau dibaptis di Menado setelah beliau menerima pengajaran tentang agama Katolik dalam waktu yang sangat singkat. Beliau dibaptis oleh Pastor Diago Mangelhaens dengan memperoleh nama babtis “ Don Jeronimo Winsulangi “.

Pada tahun 1619 Pastor Pedro Maxarenhas dari Ternate berkunjung ke Siau mengadakan misa suci untuk keluarga Raja, bertepatan dengan hari Paschen atau Paskah, maka sejak saat itulah nama Katutungan berganti Paseng sampai saat ini. Selain bangsa Portugis maka bangsa Spanyol pun telah dapat menanamkan pengaruhnya pada masa pemerintahan Raja Winsulangi. Hal ini tidak mengherankan karena sejak terbukanya pintu pertahanan di bagian utara, khususnya Philipina dimana gugurnya Raja Soleman dari Philipina dalam pertempuran terakhir dengan Spanyol di teluk Manila pada tahun 1570, maka kekuatan armada Spanyol untuk mengalir ke arah Selatan tidak dapat dibendung lagi walaupun ada pertempuran-pertempuran di bagian Selatan Mindanaou dan mulai saat itulah Philipina jatuh ke tangan Spanyol. Di samping kekuasaan Spanyol dan Portugis, maka VOC pun telah ada dan mulai timbul persaingan perebutan kekuasaan menguasai wilayah Sangir Talaud antara Belanda dan Spanyol.

V. Raja Don Harvius Fransisco Batahi 1642 – 1678


Putra Raja Don Jarenimo Winsulangi dengan permaisuri Tihuwang Sompo dari Saluran / Tabukan. Kedudukan Raja dari Paseng dipindahkan ke Pohe, sebagai suatu siasat untuk mengusir bangsa Spanyol yang telah mengingkari janji sebagai sahabat namun akhirnya dirasakan untuk mengambil seluruh kerajaannya di mana tadinya hanya diterima sebagai sahabat sewaktu dalam pemerintahan ayahnya. Setelah perbentengan siap untuk pertahanan disekitar Pehe maka mulai beliau membuka serangan sebagai satu usaha untuk mengusir Spanyol dari daratan Siau. Kesultanan Ternate mendengar bahwa Raja Batahi bertempur melawan Spanyol maka sebagai simpati dari Sultan Bacilisiberi karena hubungan kekeluargaan antara Ternate dan Sangir karena perkawinan putri-putri Sangir dan Ternate maka beliau mengirimkan satu armada ke Siau untuk membantu Raja Batahi. Di samping itu VOC yang berpusat di Ternate memperhitungkan bahwa adalah kesempatan bagi mereka untuk menanamkan kukunya di Siau, maka Gubernur Padbrugge mengirimkan pula satu armada VOC ke Siau untuk memperkuat pertahanan Raja Batahi. Dua armada yang berangkat dari Ternate menuju Siau dan dengan bantuan tersebut akhirnya kemenangan berada di pihak Raja Batahi dan Spanyol angkat kaki dari Siau. Dengan tersisinya Spanyol dari Siau maka kesempatan bagi VOC untuk memainkan peranannya melaksanakan tujuannya menguasai Siau dan kepulauan Sangir pada umumnya sudah licin karena saingannya sudah tidak ada lagi. Tiba saatnya bagi Belanda sekarang untuk mendesak Raja Batahi untuk menerima apa yang mereka kehendaki. Dengan keadaan yang terdesak dan tak ada jalan lain yang ditempuh karena baru sembuh dari pertempuran dengan Spanyol maka dengan rasa berat beliau menerima satu perjanjian yang disodorkan oleh Belanda di Ternate pada tanggal 9 November 1677 bersama-sama Raja-Raja Sangir lainnya :

- Raja Philips Antoni Aralung Nusa Tagulandang

- Raja Vasgo da Gama Tabukan

- Raja Diamanti Manganitu

-

Permaisuri Raja Batahi adalah putri dari Don Fransisco Makaampow Judha I Raja ke IV dari

Tabukan bernama Maimuna. Dengan perkawinan tersebut hubungan antara kerajaan Siau

dan Kerajaan Tabukan bertambah akrab. Perkawian Putri Maimuna dengan Raja Batahi, Raja

Vasco da Gama dari Tabukan memberikan hadiah kepada cucunya Maimuna wilayah

Kerajaannya di Talaud yaitu pulau Kabaruan dan Salongkere. Menurut versi Saudara Iwan

Arif Padmadinata bahwa pulau Kabaruan dihadiahkan oleh Mahadia Ponto kepada kerajaan

Siau karena Mahadia Ponto mengungguli sayembara ketangkasan yang diadakan oleh Raja

Lekenbanua untuk melebarkan kerajaannya. ( Buletin Ikist No.2 terbitan Mei 1979 halaman

14 dan 15 ). Sampai dimana kebenaran kedua versi ni perlu diadakan penyelidikan oleh ahli-

ahli sejarah muda Sangir Talaud sehingga hasilnya akan dapat dipergunakan sebagai satu

sejarah yang benar - benar konkrit yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Sangir

Talaud. Penulis tidak akan mengurangi kedudukan Para Pangeran Talaud namun yang jelas

bahwa kepulauan Talaud nanti tampil dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Sangir Talaud pada

abad ke XX atau tepatnya pada tahun 1922 dibawah kekuasaan Raja Johannis Tamawiwy

yang berpusat di Beo. Disamping itu kita tidak akan mengsampingkan para pahlawan Talaud

yang timbul pada abad ke XX seperti Raja Dalaeng yang berkuasa di Salibabu barat,

Pahlawan Amale atau Malia, Sarie Tamawiwy di Beo, Larenggang di Arangkaa yang dikenal

Dengan perang Arangkaa melawan penjajah Belanda yang mengakibatkan Raja Larenggang

gugur dalam perang tersebut karena tidak mau tunduk kepada penjajah Belanda.

Demikianlah tulisan ini agak menyimpang sedikit untuk memberikan pandangan tentang

versi saudara Iwan D. A. Padmadinata tentang Pangeran Mahadia Ponto yang

mempersunting putri Wasing Lawee dengan Laekingnya pulau Kabaruan di Talaud.

VI. Raja Hendrik Jacobus Rarame Nusa 1678 – 1716


Putra dari Raja Don Harvius Fransisco Batahi dengan permaisuri Maimuna dari Tabukan. Beliau memeluk agama Protestan. Perdamaian antara Kerajaan Siau dan Tabukan pulih seperti semula dan dengan arti nama Rarame Nusa adalah sebagai lambang Pendamai Nusa. Oleh Datuknya Raja Tabukan Don Fransisco Makaampow Yudha I diberikan sebagian kerajaannya di selatan Pulau Kahakitang, Para’ dan Mahongetang. Dengan demikian Kerajaan Rarame Nusa bertambah luas.

VII. Raja Daniel Jacobus Lohontundali 1716 – 1752


Putra dari Raja Hendrik Jacobus Rarame Nusa dengan permaisuri Dolonaego. Beliau wafat di Ternate sewaktu mengadakan kunjungan ke Ternate dan dimakamkan di Gereja Ternate sedang rambutnya dicukur dan di kirim ke Siau dan ditanam didalam rumah Gereja di Pohe.

VIII. Raja Ismail Jacobus Mohengkelangi 1752 – 1788


Putra dari Raja Daniel Jacobus Lohontundali dengan permaisuri Mendulangkati putri Raja Mehengkalangi dari Tabukan. Pusat pemerintahan oleh beliau dari Pehe dipindahkan ke Ondong. Mengingat beliau adalah seorang yang taat kepada agama Protestan maka pada tahun 1755 beliau mendirikan gereja Ondong dengan arsitek seorang guru Injil dari Ambon bernama Lopulalan. Bentuk rumah gereja tersebut persegi delapan menurut bentuk bangunan pada jaman itu, namau pada tahun 1956 bentuknya dirubah menjadi persegi empat. Pada jaman pemerintahan beliau Kerajaan Tagulandang menghadiahkan sebidang tanah ditempat beranama Wenene’, demikian pula kajeguguan Tamake menghadiahkan sarang burung di pulau Kalama.

IX. Raja Ericus Jacobus Begandelu 1788 – 1790


Putra Raja Ismail Jacobus Mohengkelangi dengan permaisuri Ester Monggeadi Manoppo dari kerajaan Bolang Itang, karena terganggu ingatannya maka beliau hanya memerintah selama 2 tahun dan digantikan oleh adiknya Egenius Jacobus Umbeliwutan.

X. Raja Egenius Jacobus Umbeliwutan 1790 – 1822


Saudara Raja Ericus Jacobus Begandelu. Dalam pemerintahan beliau kejaguguan Tamake menghadiahkan kembali sarang burung di pulau Kalama dengan suratnya tanggal 26 Oktober 1801.

XI. Raja Fransisco Tapianus Paparang Batahi 1822 – 1839


Putra dari Raja Tabukan ke IX Julius Hendrik David Paparang Pahawuaten dengan permaisuri Elizabeth Jacobus Nurumilang saudari dari Raja Ismail Jacobus Mohengkelangi.

XII. Raja Nicolaus Ponto Tawere 1839 – 1842


Putra dari Raja Salmon Ponto dari Kerajaan Bolang Itang dengan permaisuri Vilipina Jacobus Silegondo saudari dari Raja Ismail Jacobus Mohengkelangi.

XIII. Presiden Raja Markus Dulage 1842 – 1850

XIV. Raja Jacob Ponto 1850 – 1882


Putra Raja Bolang Itang Daud Ponto saudara dari Raja Nicolaus Ponto Tawere. Pada jaman pemerintahan beliau terjadi pertikaian dengan kerajaan Manganitu mengenai wilayah teluk Daghe sampai Lapunge, di mana Raja Jacob Ponto mengklaim wilayah tersebut sebagai wilayah kerajaan Siau. Ditengah pertikaian ke dua kerajaan Siau dan Manganitu ini maka Kerajaan Tabukan memberikan sanggahan yang ditujukan kepada Presiden Manado bahwa daerah yang dipersengketakan itu adalah wilayah Tabukan, dan adalah hadiah dari Kulange Wangua Daghe kepada putrinya bernama Bausang yang menjadi istri Kulane Ansiga dari Saluran / Tabukan. Secara historis maka wilayah yang dipersengketakan itu adalah termasuk wilayah Tabukan setelah penyatuan dua kerajaan Saluran dan Sahabe yang menjadi Kerajaan Rimpulaeng. Akhirnya sengketa itu dapat diselesaikan dengan damai dimana wilayah itu dibagi dua. Dasar hukum yang diajukan oleh Tabukan, bahwa wilayah itu belum diberikan kepada siapa-siapa oleh Kerajaan Tabukan baik yang menjadi Raja ataupun permaisuri dari kerajaan lain. Dengan campur tangannya Presiden Manado yang diwakili oleh Controleur van Zenden maka wilayah itu dibagi kepada keduanya yang bersengketa pada tahun 1882, dengan batas-batasnya sebagai berikut:


a. Dari Tempat bernama Limangu keluar sampai Tonde Manandu dan Pulau Mahuru

menjadi wilayah Siau.


b. Dari Limangu masuk ke dalam sampai ke tempat bernama Tompohe Laine dan keluar

lagi ke tempat bernama Batun Puikang menjadi wilayah Manganitu.

Dalam keputusan ini rupanya tidak memuaskan Raja Jacob Ponto disamping politik

penjajah Belanda yang mengekang kedaulatan Kerajaan-kerajaan di Sangir Talaud

setelah adanya satu perjanjian dengan penjajah Belanda yang walaupun Belanda

mengakui adanya Swapraja tetapi kekuasaan mutlak adalah ditangan Belanda. Untuk

menghindari kelanjutan dari peristiwa tersebut, disamping pemerintaha colonial

melihat bahwa Raja Jacob Ponto adalah seorang yang berbahaya dimata pemerintah

Belanda, dan menjadi duri dalam tubuh kolonial maka pada tahun 1882 beliau dibuah

keluar daerahnya ke pesisir utara Jawa Barat ke kota Cirebon. Beliau menetap di

Cirebon sampai wafat pada tahun 1890, dan dimakamkan di selatan kota Cirebon

bernama Sangkanurip 12 km dari kota Cirebon. Bagi generasi tua di kota Cirebon beliau

dikenal dengan sebutan Raja Menado.

XV. Presiden Raja Semuel David 1882 – 1896


Pada jaman pemerintahan beliau pusat pemerintahan di Ondong dipindahkan ke Ulu pada tanggal 30 November 1890.

XVI. Raja Manalang Dulage Kansil 1896 – 1908


Putra Jagugu Matengkelang dengan permaisuri bernama Maitung. Wilayah kerajaan Siau menciut, karena kejaguguan Tamake yang meliputi : Tanjung Lelapide sampai dengan tempat bernama Limangu, dan pulau-pulau Mahumu, Kalama, Kahakitang, Sanggaluhang diberikan kepada putrinya bernama Louise Ella Kansil sebagai hadiah perkawinan dari ayahnya pada tahun 1912, yang menjadi permaisuri Raja Manganitu, Raja Komisi Wiliam Pandesolang Mocodompis. Pada tahun 1908 Raja Manalang D. Kansil berhenti dan Kerajaan Siau dijabat oleh Presiden Raja A.J. Mohede sampai tahun 1912.

XVII. Presiden Raja A. J. Mohede 1908 – 1912

XVIII. Raja Antoni Jafet Kansil Bogar 1912 – 1918


Putra dari saudara perempuan Raja Manalang Dulage Kansil. Beliau wafat pada tahun 1918 karena serangan penyakit influenza yang melanda kepulauan Sangir Talaud pada tahun 1918. Pemerintahan kerajaan Siau sejak saat itu dijabat oleh Antoni Dulage Laihad selaku Presiden Raja dimana sebelumnya beliau adalah Jegugu Ulu. Beliau adalah putra dari Kapten Laut Ponto Laihad dari Saluran dan ibunya adalah saudara perempuan dari Jegugu Matingkelang bernama Apung. Beliau memegang kendali pemerintahan kerajaan Siau sampai tahun 1921.

XIX. Presiden Raja Antoni Dulage Laihad 1918 – 1921

XX. Raja Lodewyk Nicolaus Kansil 1921 – 1929
Putra dari Raja Manalang Dulage Kansil dengan permaisuri Beha’timbang. Raja Lodewyk atau juga dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Raja Lody dibuang oleh pemerintah Blenada pada tahun 1929 ke Parigi Sulawesi Tengah. Pemerintah Belanda mulai waspada terhadap Raja-raja yang mempunyai wibawa dengan berlatarkan peristiwa-peristiwa pada jaman lampau sehingga dicari alasan-alasan yang kuat untuk menyingkirkannya.

XXI. 1929 – 1934 untuk mengisi ke vacuman dalam pemerintahan Kerajaan Siau setelah

berangkatnya Raja Lody menuju tempat pembuangannya maka Kerajaan Siau dirangkap oleh

Raja Tagulandang Hendrik Philips Jacobz.

XXII. Raja Hendrik Janis 1934 – 1937


Raja Hendrik Janis adalah Raja terakhir dari Kerajaan Siau. Setelah Raja Janis berhenti maka pemerintah Belanda mengangkat F. Parengkuan dari Minahasa untuk meneruskan pemerintahan Kerajaan Siau sampai tahun 1945.

Demikianlah sejarah perkembangan Kerajaan Siau mulai dari Raja Leken Banua II sejak tahun 1510 sampai tahun 1945.